0

Etika Bercanda

gambar diambil dari ikmahluha.blogspot.com

gambar diambil dari ikmahluha.blogspot.com

Sangat mungkin kata-kata yang niatnya ingin disampaikan sebagai kebaikan justru menjadi sebuah keburukan, ketika tidak ada pemahaman akan situasi dan kondisi pada saat itu.”

Tidak hanya dalam menjalankan pemerintahan negara saja yang membutuhkan etika. Dalam bercandapun ada unsur-unsur etika yang harus diperhatikan. Bisa saja ketika seorang ingin menyampaikan bahan candaan sekadar memecahkan suasana, justru yang terjadi adalah semakin memburuk. Karena sang penutur bahan candaan haruslah memerhatikan suasana hati yang ditujukan sebagai penerima bahan candaan. Baca lebih lanjut

6

Membicarakan Hatta

Ada sebuah novel memoar tentang seorang Bung Hatta yang ditulis Segius Sutanto. Walaupun disebut novel, dan terkadang pembacaan terhadap novel dirasa ringan. Novel memoar ini lebih tepatnya fluktuatif, terkadang ringan dan ada kalanya pula terasa berat. Sebab membicarakan Bung Hatta pasti juga membicarakan pergolakan politik dan perjuangannya sebagai negarawan. Dua hal itu tidak bisa tidak dibahas dengan tidak ringan. Baca lebih lanjut

3

Persis Seperti Warna Abu Gunung Kelud

Di Indonesia sangat bisa engkau temukan pasien rumah sakit di buang dari bilik perawatan
Di Indonesia sangat bisa engkau temukan orang berhati baik dihina dan dikucilkan
Di Indonesia sangat bisa engkau temukan hewan-hewan kebun binatang tak berdosa dibunuh hanya demi hasrat kepentingan
Di Indonesia pula sangat bisa engkau temukan bahwa bisa ditukar  lembaran rupiah dengan sebuah kedaulatan

Sutan Sjahrir pernah bertutur : slogan merdeka atau mati sungguh merupakan bumerang bagi rakyat Indonesia. Sebab kemerdekaan belum juga tercapai seluruhnya, sedangkan tanda-tanda kematianpun urung juga tiba.
Lalu di mana posisi kita saat ini? Merdekakah? Matikah? Ataukah?
Barangkali karena kebodohan kitalah alam seakan hendak mengingatkannya melalui teguran-teguran keras
Kebodohan kita terakumulasi menjadi bencana-bencana alam yang menuntut kita untuk singga sementara di teras-Nya

Bangsa ini sedang sibuk bingung mencari identitasnya
Mencari-cari warna, yang ditemukan hanya abu-abu
Persis seperti warna abu Gunung Kelud

2

Pergi Untuk Pulang

Setelah sekian lama tiada pulang dan pula terlupa akan makna kerinduan
Kini, etalase-etalase keegoisan itu terbuyar sudah dari perbendaharaan

Betapa rendah diri ini, baru kupahami bahwa kalianlah alasan paling berharga dalam hidupku
Alasan sederhana yang kujadikan salah satu alasan untuk selalu hidup dalam berjibaku

Sesuatu yang selalu mahal dalam kehidupan ini : keluarga

23

Mengenang Toko Buku Tua

gambar diambil dari literer.wordpress.com

gambar diambil dari literer.wordpress.com

Sudah hampir tiga minggu lamanya saya meninggalkan rasa cinta terhadap Yogyakarta untuk pulang ke kampung halaman guna menyambut cinta yang lainnya, yakni cinta ibu. Sudah hampir tiga minggu pula saya berpisah dengan buku-buku yang saya tinggalkan di Utara Terminal Condong Catur sana. Walau beberapa buku dibawa guna bekal mengobati kerinduan dalam tour pulang kampung kali ini, namun tetap saja rasa itu tetap memuncak di samping rasa-rasa lain yang memang pada intinya ingin membawa saya kembali ke Yogyakarta. Baca lebih lanjut

2

Ketika Diam Menjalankan Tugasnya

disadur dari irilaslogo.wordpress.com

disadur dari irilaslogo.wordpress.com

Bagai semerbak wangi bunga tujuh rupa berseliweran, di cumbui oleh senyum indah semesta dunia menyertai diri Hamdaka ketika melangkahkan kaki dari bis yang ditunggangi ke kampung halaman. Waktu itu gelap gurita, malam sedang menunjukkan wibawanya, sedangkan bulan tersipu malu di balik tirai awan malam. Hamdaka mengarahkan langkah kaki menuju satu pintu, satu pintu yang sedari tadi telah dijadikan tempat menanti oleh seorang. Seorang yang dijadikannya alasan untuk lelah-lelah menempuh jauhnya jarak perjalanan dari seberang pulau Jawa ke tanah kelahiran Sumatera. Baca lebih lanjut